BPRS Botani Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah untuk Pemberdayaan Umat

Bogor, 5 September 2026 — PT BPRS Botani Bina Rahmah, salah satu anak perusahaan Bogor Life Science and Technology (BLST) IPB University, bersama Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University menyelenggarakan Talkshow Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah bertajuk “Ekonomi Syariah untuk Pemberdayaan Umat”.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Equilibrium, FEM IPB University, Bogor, ini mempertemukan akademisi, mahasiswa, pelaku UMKM, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas peluang dan tantangan pengembangan ekonomi serta keuangan syariah di Indonesia.

Talkshow menghadirkan Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik, SP, MSc.Ec, Dekan FEM IPB University sekaligus Komisaris Utama BPRS Botani Bina Rahmah, sebagai keynote speaker. Diskusi turut menghadirkan Alfi Wijaya, SE., MM, Ketua Umum HIMBARSI; Ir. Adiwarman Azwar Karim, SE., MBA., MAEP, Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Prof. Hermanto Siregar; serta Dr. Imam Teguh Saptono, MM, Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia.

Diskusi dipandu oleh Arie Wibowo Irawan dari Himpunan Alumni IPB, dengan Hafizh Purnama Putra, Duta Mahasiswa IPB, sebagai Master of Ceremony.

Memperkuat Literasi Menuju Inklusi Keuangan Syariah

Dalam pemaparannya, Prof. Irfan Syauqi Beik menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara tingkat pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah dengan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tingkat literasi keuangan syariah mencapai 43,07%, sementara tingkat inklusinya baru 13,24%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman perlu diikuti dengan kemudahan akses serta penggunaan layanan keuangan syariah secara nyata.

Menurut Prof. Irfan, ekonomi syariah tidak hanya berkaitan dengan instrumen keuangan, tetapi juga memiliki peran dalam mendorong pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Potensi tersebut semakin besar dengan dukungan sektor UMKM serta optimalisasi instrumen sosial seperti zakat dan wakaf.

Indonesia sendiri memiliki potensi yang besar dalam pengembangan ekonomi syariah. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi akses, layanan, dan aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat.

BPR Syariah dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal

Ketua Umum HIMBARSI, Alfi Wijaya, menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi syariah perlu didukung melalui sinergi antara kebijakan nasional dan implementasi di tingkat daerah.

Perubahan nomenklatur BPR Syariah menjadi Bank Perekonomian Rakyat Syariah melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) semakin mempertegas peran BPRS dalam mendorong perekonomian masyarakat dan wilayah.

Dalam konteks tersebut, BPRS tidak hanya memiliki fungsi intermediasi, tetapi juga dapat berperan dalam menghubungkan potensi dana sosial dengan aktivitas pemberdayaan ekonomi. Salah satu pendekatan yang dibahas adalah pemanfaatan wakaf produktif melalui skema Cash Waqf Linked Deposit untuk mendukung pengembangan usaha masyarakat.

Di sisi lain, industri BPRS masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk pembiayaan bermasalah dan keterbatasan permodalan. Penguatan kelembagaan dan kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri keuangan syariah di tingkat lokal.

Memperluas Akses Pembiayaan bagi UMKM

Sementara itu, Dr. Imam Teguh Saptono menekankan pentingnya transformasi perbankan syariah agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku UMKM.

UMKM memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja. Namun, akses pembiayaan yang diterima sektor ini masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan jaringan, biaya layanan untuk pembiayaan bernilai kecil, tenor yang belum sesuai dengan siklus usaha, proses yang relatif kompleks, hingga aspek kepercayaan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan pendekatan pembiayaan yang lebih adaptif, termasuk pemanfaatan data arus kas usaha dan penguatan sinergi antara Bank Umum Syariah dengan BPRS. Bank Umum Syariah memiliki keunggulan dari sisi skala, sementara BPRS memiliki kedekatan dengan masyarakat dan karakteristik ekonomi lokal.

Kolaborasi keduanya diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan sekaligus menghadirkan layanan keuangan syariah yang lebih relevan bagi kebutuhan masyarakat.

BPRS Botani sebagai Bagian dari Pemberdayaan Masyarakat

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Imam Haryanto, ST., MM., Direktur Utama BPRS Botani Bina Rahmah, memperkenalkan profil dan perjalanan BPRS Botani sebagai lembaga keuangan syariah yang hadir untuk melayani dan mendukung kebutuhan masyarakat.

Sebagai salah satu anak perusahaan BLST IPB University, BPRS Botani menjadi bagian dari portofolio bisnis BLST dalam mendukung pengembangan berbagai sektor yang memiliki dampak bagi masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, BPRS Botani juga memperkenalkan peluang kepemilikan saham kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun partisipasi dan pertumbuhan bersama lembaga keuangan syariah.

“Acara ini membuktikan bahwa semangat umat untuk memahami dan menggunakan ekonomi syariah itu nyata. Kami berharap talkshow ini menjadi titik awal semakin banyak masyarakat, khususnya di Bogor, yang percaya dan bertransaksi bersama BPRS Botani,” ujar Dr. Imam Haryanto.

Direktur Operasional BPRS Botani, Budy Sutra Darmawan, SE., turut menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme peserta.

“Kami melihat langsung bagaimana literasi bisa perlahan bergerak menjadi inklusi. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan layanan yang semakin dekat dan mudah dijangkau oleh masyarakat,” tuturnya.

Membangun Ekonomi Syariah yang Inklusif

Selain menghadirkan diskusi dengan para praktisi dan akademisi, kegiatan juga berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dan kuis berhadiah yang diikuti antusias oleh peserta.

Melalui kegiatan ini, BPRS Botani bersama FEM IPB University menegaskan pentingnya membangun pemahaman masyarakat yang tidak berhenti pada literasi, tetapi berlanjut pada pemanfaatan layanan keuangan syariah secara nyata.

Bagi BLST, kehadiran BPRS Botani sebagai bagian dari portofolio perusahaan juga menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam menghadirkan solusi dan layanan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Literasi menjadi langkah awal, inklusi menjadi penggerak, dan pemberdayaan menjadi tujuan. Melalui kolaborasi antara dunia akademik, industri keuangan syariah, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, ekonomi syariah diharapkan dapat terus tumbuh sebagai bagian dari upaya membangun kesejahteraan yang inklusif dan berkelanjutan